ADA “MEGA-MEGA” DI MAN 2 NGAWI

Oleh: Teater Matrik

Pagi itu di aula Madrasah Aliyah Negeri 2 Ngawi suasana sedikit berbeda. Jendela-jendela tertutup oleh kain berwarna biru, panggung aula penuh dengan dekorasi bersetting pelataran alun-alun ngawi dan dihiasi lampu-lampu sorot, serta meja-meja di depan aula tertata rapi dengan bertuliskan “tiket”. Tampak beberapa orang saling berbincang di panggung aula, salah satu guru berperawakan sedang berdiri di bawah panggung terlihat mengarahkan mereka. Ialah persiapan pementasan Teater Matrik dengan mengangkat lakon “MEGA-MEGA” karya Arifin C. Noer.

Pementasan itu adalah kali pertama diadakan oleh Teater yang lahir dari MAN 2 Ngawi. Terlihat dari beberapa kali pembina harus turun tangan secara langsung untuk memberikan contoh kepada siswa, termasuk pemasangan dan pendekorasian. Namun, hal itu juga termasuk proses pembelajaran. Nantinya, mereka yang sudah pernah diajari ditularkan kepada adik-adiknya. Bukan berarti pembina lepas tangan, tapi dengan belajar sesama kawan tentu hasilnya akan lebih maksimal.

Proses Pelatihan Teater dilaksanakan selama sebulan. Mulai dari olah nafas, olah tubuh dan olah vokal. Pertama kali mereka merasa terlalu berat, karena biasanya tidak pernah latihan seberat itu. Namun, beberapa hari pembiasaan mereka cenderung menikmati, bahkan jika tidak sempurna mereka sudah saling mengingatkan antar kawan. Proses Berteater memang cukup berat diawal, akan tetapi menggembirakan diakhir.

Proses selama sebulan bukan berarti tanpa ada kendala. Beberapa pemain juga ada yang sakit di awal-awal latihan. Tapi semangat untuk belajar mereka sangat tinggi. Sehingga, halangan-halangan yang ada tampak sangat mudah untuk dilalui. Walaupun, seringkali pembina harus naik pitam karena mereka tidak berdisiplin.

Pada saat pementasan banyak dari mereka yang masih terlihat gerogi, mungkin karena ini adalah pentas pertama kalinya bagi mereka. Jika dilihat dari proses selama sebulan, tentu pementasan itu bisa berjalan dengan lancar. Prinsip perkiraan memang tidak selalu sejalan, buktinya grogi mengalahkan proses latihan. Namnu, secara global penonton masih bisa menikmati pementasan tersebut.

Akhir dari pementasan, terbayar seluruh jerih payah selama satu bulan. Tepuk tangan penonton menggema ke seluruh penjuru aula. Bahkan ada beberapa penonton bertepuk tangan sambil berdiri. Senyum ceria, bahagia dan lega bersatu padu di wajah pembina dan pemain. Cita-cita kami adalah bisa ikut membesarkan nama Madrasah Aliyah Negeri 2 Ngawi di kancah Nasional. Semoga, pentas selanjutnya bisa lebih baik. Jangan lupa tonton kami ya. Salam budaya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *